Minggu, 08 September 2013

KOMUNIKASI DALAM PENYULUHAN PERTANIAN


A. Latar Belakang
Dalam UU RI No. 16 Tahun 2006 disebutkan bahwa sistem penyuluhan pertanian merupakan seluruh rangkaian pengembangan kemampuan, pengetahuan, keterampilan serta sikap pelaku utama (pelaku kegiatan pertanian) dan pelaku usaha melalui penyuluhan. Oleh karena itu dalam UU no. 16 disebutkan bahwa Penyuluhan Pertanian adalah suatu proses pembelajaran bagi pelaku utama (pelaku kegiatan pertanian) serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.
Pengertian tersebut mengandung makna bahwa didalam proses pembelajaran inheren adanya proses-proses lain yang terjadi secara simultan, yaitu:
1). proses komunikasi persuasif, yang dilakukan oleh penyuluh dalam memfasilitasi sasaran (pelaku utama dan pelaku usaha) beserta keluarganya guna membantu mencari pemecahan masalah berkaitan dengan perbaikan dan pengembangan usahan mereka, komunikasi ini sifatnya mengajak dengan menyajikan alternatif-alternatif pemecahan masalah, namun keputusan tetap pada sasaran.
2). proses pemberdayaan, maknanya adalah memberikan “kuasa dan wenang” kepada pelaku utama dan pelaku usaha serta mendudukkannya sebagai “subyek” dalam proses pembangunan pertanian, bukan sebagai “obyek”, sehingga setiap orang pelaku utama dan pelaku usaha (laki-laki dan perempuan) mempunyai kesempatan yang sama untuk a). Berpartisipasi; b). Mengakses teknologi, sumberdaya, pasar dan modal; c). Melakukan kontrol terhadap setiap pengambilan keputusan; dan d). Memperoleh manfaat dalam setiap lini proses dan hasil pembangunan pertanian.
3. proses pertukaran informasi timbal-balik antara penyuluh dan sasaran (pelaku utama maupun pelaku usaha). Proses pertukaran informasi timbal-balik ini mengenai berbagai alternatif yang dilakukan dalam upaya pemecahan masalah berkaitan dengan perbaikan dan pengembangan usahanya.
PENGERTIAN DAN TUJUAN KOMUNIKASI DALAM PENYULUHAN PERTANIAN
dalam berbagai media massa seperti: surat kabar dan majalah atau brosur- brosur kita sering menjumpai kata ”komunikasi”. Sebagai contoh anjuran pemerintah yang berbunyi ”agar pembangunan mencapai sasarannya, hendaknya antara pusat dan daerah selalu ada komunikasi dua arah” contoh lain lagi ”hendaknya orang tua selalu berkomuikasi dengan anak-anaknya”. Contoh yang terakhir adalah ”sementara orang mensinyalir bahwa ada ”gap” komunikasi antara angkatan tua dan muda”. Sinyalemen itu sebenarnya kurang beralasan. Demikianlah beberapa contoh penggunaan kata atau istilah komunikasi. Agar kita dapat menggunakan istilah tersebut dengan tepat, maka sebelum kita membahas lebih lanjut masalah komunikasi ini, sebaiknya kita pahami dulu apa arti komunikasi itu. Untuk jelasnya di bawah ini akan dikemukakan dulu beberapa pendapat ahli yang memahami komunikasi.
Dalam ”Oxpord Dictionary” (terbitan Oxford University press, tahun 1956) kita dapati bahwa yang dimaksud dengan komunikasi adalah ”The sending or exchange of information , idea,etc.” yang artinya “pengiriman atau tukar –menukar informasi, ide, dan sebagainya”.
Selanjutnya Keith Davis dalam bukunya ”Human relation at work” menyebutkan ”Communication is the process of passing infarmation en under standing from one person to another”. Artinya adalah proses lewatnya informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain.
Sedangkan Dr.Phil Astrid Susanto dalam bukunya ”komunikasi dalam teori dan praktek” menyebutkan ”komunikasi adalah proses pengoperan lambang-lambang yang mengandung arti”. Dari pendapat para ahli tersebut kita dapat merumuskan bahwa ”komunikasi adalah penyampaian pengertian dari seseorang kepada orang lain, dengan menggunakan lambang-lambang dan penyampaian tersebut merupakan suatu proses”.
Tujuan Komunikasi
Dipandang dari segi manfaat atau keuntungan komunikasi dapat memiliki beberapa tujuan diantaranya adalah:
1. Informative , yaitu bertujuan untuk memberi informasi pendekatan pada pikiran. Kalau kita berkomunikasi secara informativ, informasi-informasi yang kita sampaikan harus faktual dan objektif.
2. Persuasive, yaitu bertujuan untuk menggugah perasaan orang seperti senang dan tidak senang, suka dan tidak suka. Jadi berbeda dari jenis tujuan komunikasi yang pertama. Disini pendekatanya dari segi emosi dan bukan dari pendekatan pikiran. Dalam penyuluhan pertanian perlu sekali mengetahui/ membedakan apakah perilaku tertentu misalnya seseorang tidak mau menerima anjuran untuk menerapkan teknologi baru disebabkan karena pikirannya atau karena perasaannya. Pikiran seseorang bersifat obyektif, sedangkan perasaan bersifat subyektif. Juga dalam pengadilan, perbedaan kedua hal tersebut sangat penting, hakim berusaha untuk membedakan antara tindakan atau perbuatan yang disebabkan perasaan dan tindakan yang disebabkan pikiran.
3. Entertainment, adalah bertujuan untuk menghibur orang, misalnya seorang membuat dagelan atau lelucon bertujuan agar orang lain mempunyai perasaan gembira. Dalam komunikasi penyuluhan pertanian tujuan ini sering dianggap perlu dengan maksud agar sasaran (petani beserta keluarganya ) memiliki perasaan gembira dan tidak bosan dalam mendengarkan segala informasi yang disampaikan oleh para penyuluh.
Telah dikemukakan diatas bahwa tujuan komunikasi dapat bersifat informatif, persuasif, maupun entertainmen. Tetapi perlu diperhatikan bahwa dalam komunikasi penyuluhan pertanian tujuan komunikasi jangan terlalu berat sebelah; artinya ketiga maksud komunikasi harus seimbang disesuaikan dengan tujuan penyuluhan. Tujuan Penyuluhan Pertanian menyangkut perubahan perilaku yang meliputi tiga unsur yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap- mental (perasaan, emosi, minat , apresiasi).
UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI DALAM PENYULUHAN PERTANIAN
Dalam penyuluhan pertanian proses komunikasi mempunyai beberapa unsur, yang satu sama lainnya saling berhubungan erat.. Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut:
a Sumber (Source)
Sumber merupakan pelaku komunikasi yang mempunyai prakarsa menggerakan proses komunikasi dan memelihara kelangsungannya. Pelaku komunikasi ini merupakan sumber informasi, ide-ide kebutuhan dalam berkomunikasi. Dalam kegiatan penyuluhan pertanian yang dimaksud sumber adalah penyuluh pertanian. Dalam melaksanakan perannya sebagai sumber komunikasi kemampuan penyuluh sangat ditentukan oleh pengetahuan, sikap mental, dan keterampilan yang dimilikinya.
b Tujuan (Objective)
Tujuan komunikasi adalah apa yang diharapkan oleh sumber (penyuluh) sebagai hasil dari proses komunikasi. Komunikasi merupakan suatu perbuatan, dan setiap perbuatan tentu ada motifnya. Motif komunikasi adalah kebutuhan-kebutuhan tertentu. Orang yang akan berkomunikasi harus dapat merasakan adanya kebutuhan berkomunikasi. Bila orang tidak merasakan kebutuhan berkomunikasi, maka orang tersebut tidak akan melakukan komunikasi. Dalam penyuluhan pertanian tujuan komunikasi misalnya peningkatan produksi padi. Tujuannya komunikasi harus jelas dan tegas, tidak terlalu umum sehingga kabur atau tidak jelas. Tujuan yang terlalu umum dan tidak jelas misalnya meningkatkan taraf hidup.
c Sasaran (target)
Sasaran atau target dalam proses komunikasi adalah pelaku komunikasi yang diusahakan untuk menerima informasi, ide-ide dan anjuran-anjuran yang disampaikan oleh sumber, sasaran diharapkan dapat terjadi perubahan dan perbaikan-perbaikan perilaku sebagai hasil dari proses berkomunikasi dengan sumber. Jika pada sasaran tidak tampak tanda-tanda perubahan, maka komunikasi itu tidak berhasil. Dipandang dari segi sasaran keberhasilan komunikasi dipengaruhi oleh keterampilan, pengetahuan dan sikap mental yang dimilikinya. Disamping itu sistem sosial seperti adat-istiadat, tradisi dan kebudayaan, misalnya bahasa akan turut pula mempengaruhi keberhasilan komunikasi, karena itu penyuluh harus mengenal sifat-sifat sasarannya beserta sistem sosial dimana mereka berada. Sasaran utama penyuluhan pertanian tidak lain adalah petani beserta keluarganya yang hidup dan berada pada masyarakat pedesaan yang memilikin ciri-ciri yang spesifik berbeda dengan masyarakat kota.
d Pesan (amanat)
Pesan (amanat) adalah segala apa yang disampaikan oleh sumber (penyuluhan pertanian) kepada sasaran (petani beserta keluarganya) untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya anjuran untuk memupuk tanaman padi agar produksinya meningkat. Isi pesan (message content) merupakan materi dalam pesan yang dipilih oleh sumber untuk mengungkapkan maksudnya. Perlu disadari bahwa isi pesan yang tidak jelas akan sangat mempengaruhi efektivitas komunikasi. Oleh karena itu penyuluh pertanian selaku sumber yang akan menyampaikan suatu amanat tertentu kepada sasaran (petani dan keluarganya) harus dapat memilih dan menentukan lambang, isyarat atau sandi-sandi untuk mengungkapkan dan memberi arti kepada orang lain (sasaran komunikasi).
e Saluran (channel)
Saluran (channel) adalah jalan atau cara yang dipergunakan untuk menyampaikan pesan (message) kepada sasaran. Saluran yang dipakai harus sesuai dengan panca indera yang akan menangkapnya. Efektivitas penggunaan saluran tergantung pada kepekaan indera yang digunakan. Indera mana yang akan digunakan dan kelima indera (panca indera) yang ada menentukan saluran apa yang akan digunakan. Dalam penyuluhan pertanian, saluran ini dapat membentuk kunjungan rumah, demonstrasi, perlombaan, pertunjukan, kursus, latihan, pameran, darmawisata, publikkasi, film, radio, televisi, dan lain-lain Mempergunakan kombinasi dari berbagai macam saluran akan menambah kemungkinan proses komunikasi dapat berhasil dengan baik, dalam arti bahwa pesan yang disampaikan akan sampai dan dimengerti oleh sasaran. .
f Perlakuan (Treatment)
Perlakuan (treatment) dari pesan dalam proses komunikasi adalah bagaimana kita meneruskan pesan itu melalui suatu saluran tertentu. Misalnya yang menjadi saluran dalam proses komunikasi penyuluhan pertanian adalah siaran radio, sedangkan perlakuan untuk menyampaikan pesan pada siaran radio itu misalnya dalam bentuk pidato, dialog, lawak, pertunjukan wayang dan lain-lain.


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI KOMUNIKASI
a Dilihat dari komunikator atau sumber komunikasi.
Dilihat dari komunikator maka komunikasi dipengaruhi oleh:
1) Kecakapan Komunikator
Komunikator yang baik adalah menguasai cara-cara penyampaian buah pikiran baik secara lisan maupun secara tertulis. Dengan kata lain komunikator harus menguasai teknik berbicara dan teknik membuat surat (naskah). Ia harus cakap memilih simbol / lambang yang tepat untuk mengungkapkan buah pikiranya dan harus cakap membangkitkan minat para pendengar atau pembaca. Disaping itu harus pandai pula menarik perhatian dan menyajikannya.
2) Komunikasi dipengaruhi oleh saluran atau alat tubuh dari komunikator, terutama dalam komunikasi lisan. Suara yang besar dan jelas, ucapan yang jelas, tingkah laku yang baik akan menyebabkan pembicaraanya menarik. Juga tangan yang sehat dengan gerak-gerik yang baik dapat mendukung pembicaraan, oleh karena itu bila ingin berhasil dalam komunikasi alat-alat tubuh kita harus baik terutama alat-alat indera dan alat bicara.
b. Dilihat dari segi reseptor (penerima).
Keberhasilan komunikasi tidak hanya tergantung pada pihak komunikator (sumber), tetapi juga tergantung dari reseptor. Walaupun pihak komunikator telah memenuhi persyaratan, akan tetapi bila pihak reseptor kurang memenuhi maka hasil komunikasi tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. Pengaruh-pengaruh dari pihak reseptor tersebut adalah:
1) Kecakapan komunikator reseptor.
Hasil komunikasi ditentukan oleh kecakapan berkomunikasi reseptor. Kecakapan ini terutama kecakapan mendengarkan dan membaca. Walaupun komunikator cakap berbicara atau menulis, aka tetapi bila reseptor kurang cakap mendengarkan dan membaca, maka hasil komunikasi kurang memenuhi harapan., olleh karena itu agar hasil komunikasi baik maka reseptor harus menguasai teknik mendengarkan dan teknik membaca. Dalam mendengarkan reseptor harus cakap memusatkan perhatian, mengambil inti sari dari suatu pembicaraan, dan harus dapat membedakan mana pokok permasalahan dan mana yang hanya merupakan penjelasan-penjelasannya saja, harus bersifat kritis, dan sebagainya. Dalam membaca ia harus dapat menangkap banyak kata-kata secara sekaligus dan menafsirkannya secara tepat.
2) Sikap Reseptor.
Hasil komunikasi dipengaruhi pula oleh sikap reseptor (penerima). Kadang-kadang reseptor selalu menaruh curiga terhadap pembicara (prejudice), atau kadang-kadang bersikap apriori artinya telah menentukan kesimpulan sebelum ada data-data yang lengkap. Sebagai contoh seorang reseptor (pendengar suatu penceramah) telah menganggap rendah kepada seseorang penceramah atau terlalu memandang tinggi kepada seorang penceramah atau pembicara. Sikap yang demikian menyebabkan hasil komunikasi kurang murni.
3) Pengetahuan reseptor (pendengar/pembaca)
Hasil komunikasi di pengaruhi pula oleh kekayaan pengetahuan si reseptor, dengan pengetahuan yang banyak seorang pendengar dapat dengan cepat menangkap isi dari suatu pesan atau suatu bacaan dan mudah menafsirkan maksud dari pembicara/penulis tersebut. Sebaliknya pendengar/pembaca yang pengetahuannya sangat terbatas akan sulit menangkap pembicaraan atau bacaan.
4) Komunikasi dipengaruhi pula oleh sistem sosial.
Artinya si pendengar/pembaca harus memahami kedudukan pembicara. Sebagai contoh bila kita menghadiri suatu ceramah tertentu dan si penceramah kebetulan seorang yang berasal dai luar negeri dan tindak tanduknya seenaknya sendiri, maka kita tidak boleh bersikap negatif atau acuh tak acuh. Sebab tiap penceramah memiliki kebiasaan-kebiasaan tersendiri. Demikian pula bila kita ada di suatu kantor tertentu atau masyarakat tertentu kita sebagai reseptor (pendengar) harus dapat menyesuaikan diri, artinya memahami tata tertib dan tata pergaulan masyarakat tersebut. Dengan cara itu maka kita dapat menjadi pendengar yang baik, dan jika tidak dapat menyesuaikan terhadap kebiasaan-kebiasaan atau tradisi-tradisi pembicara/penulis, maka komunikasi menjadi terhambat, oleh karena itu sebagai pendengar atau pembaca harus dapat menyesuikan diri terhadap sistem sosial dari pihak pembaca/penulis.
5) Komunikasi dipengaruhi pula oleh saluran komunikasi, (pendengaran/penglihatan) dari pihak reseptor. Bila pendengaran, penglihatan, atau indera lainnya kurang sempurna maka komunikasi juga tidak akan sempurna., karena dengan kurang sempurnanya alat-alat penyalur tersebut (indera) maka tangkapan dapat kurang jelas.. Oleh karena itu agar komunikasi dapat lancar dan berhasil, maka indera kita harus baik.

RINTANGAN-RINTANGAN DALAM KOMUNIKASI DAN CARA MENGATASINYA
Rintangan-rintangan terebut antara lain:
a) Kurang kecakapan berkomunikasi.
Misalnya kurang cakap berbicara (terutama di depan umum), kurang cakap menulis /mengarang, kurang cakap mendengarkan dan kurang cakap membaca. Umumnya kegiatan –kegiatan tersebut sudah biasa dilakukan akan tetapi yang dapat dilakukan dengan baik atau efektif belum banyak. Untuk mengatasinya harus banyak belajar dan berlatih. Belajar dan berlatih berbicara, menulis, mendengarkan dan membaca mengenai teorinya dan setelah itu berlatih (memperaktekkannya).


b) Sikap kurang tepat
Di depan telah disebutkan bahwa sikap yang tidak tepat dapat merintangi komunikasi. Untuk dapat mengatasi hal ini perlu memperdalam hubungan kemanusiaan (human relation) dan mempelajari etiket, namun bagaimanapun juga dalam sikap tersebut yang diperlukan adalah sikap simpatik, muka manis, tidak sombong, rendah hati, akan tetapi cukup tegas.
c) Pengetahuan kurang
Pengetahuan kurang dapat menyangkut si komunikator (pembicara/penulis) dapat juga menyangkut si reseptor (pendengar/pembaca). Bila pengetahuan pembicara/penulis terlalu tinggi untuk pendengar /pembaca, maka dalam penyajiannya harus berusa menurunkan pengetahuannya tersebut, cara yang dapat ditempuh adalah dengan banyak menggunakan contoh-contoh konkrit atau cerita-cerita yang dapat diambil hikmahnya.
d) Kurang memahami sistem sosial
Di depan juga telah disinggung masalah sistem sosial. Bila pembicara kurang memahami sistem sosial, maka pembicaraannya tidak dapat tepat. Demikian pula pendengar bila kurang memahami si pembicara tidak akan menangkap dengan tepat. Mengenai hal ini di depan telah di bicarakan cara mengatasi rintangan tersebut adalah dengan cara mempelajari tradisi dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat setempat atau kantor setempat, sebab setiap masyarakat atau kantor/perusahaan tertentu memiliki kebiasaan-kebiasaan atau tradisi-tradisi tertentu..Sering terjadi seorang pimpinan yang sukses di daerah tertentu, ternyata ketika pindah di daerah lain tidak sukses.Setelah diteliti ternyata sang pemimpin tadi menyamakan masyarakat yang baru (bawahan yang baru), dan bawahan yang pernah dipimpinnya.
e) Syakwasangka (prejudice) yang tak berdasar. Bagi masyarakat yang kurang terpelajar akan mudah timbul perasaan syakwasangka. Sering syakwasangka tersebut kurang berdasar pikiran yang sehat. Sebagai contoh sejak zaman Belanda telah ditanamkan oleh penjajahan tentang sifat dari suku-suku bangsa kita seperti orang Jawa suka menipu, orang Solo sombong, orang Semarang suka menggeretak, Orang Batak suka kasar, dan sebagainya. Pemberian sifat khas tersebut oleh penjajahan di sengaja hanya untuk memecah belah (devide et impera). Dengan adanya sifat tersebut akan timbul saling mencurigai dan rasa curiga seperti itu akan beralasan. Oleh karena itu sifat tersebutk harus segera dihilangkan. Selanjutnya demi kelancaran komunikasi antara sumber dan sasaran, harus selalu di hindari adanya syakwasangka (prejudice) yang merupakan rintangan psikologis dalam komunikasi.
f) Jarak fisik.
Komunikasi menjadi tidak lancar bila antara komunikator dan reseptor terletak berjauhan. Misalnya yang satu di Jakarta sedangkan yang satu di Banyuwangi. Untuk mendekatkannya banyak cara dapat ditempuh.
g) Rintangan karena kesalahan bahasa.
Di depan telah disebutkan bahwa sering terjadi penafsiran yang keliru karena perbedaan arti suatu istilah.
h) Indera yang rusak
Kita sulit berkomunikasi dengan orang yang sudah tua yang inderanya, terutama mata dan telinganya yang sudah tidak sempurna,. oleh karena itu agar komunikasi dapat lancar maka indera kita harus selalu sehat.
i) Komunikasi berlebihan
Kadang-kadang komunikasi tidak lancar dan tidak mencapai tujuan karena over komunikasi (komunikasi yang berlebihan).
j) Komunikasi satu arah
Oleh para ahli pernah dicoba dengan memberi perintah-perintah hanya dari atasan kepada bawahan (komunikasi satu arah) ternyata hasilnya banyak yang kurang sesuai dengan harapan atasan (pimpinan). Lalu waktu percobaan dilanjutkan dengan cara lain.
Kesimpulan
Komunikasi penyuluhan pertanian merupakan proses penyampaian pesan secara simultan dari Source (Penyuluh) kepada Receiver (petani) berupa pesan, (kata-kata, lambang, warna, angka data, gestura) baik secara verbal maupun non verbal melalui saluran tertentu hingga menghasilkan umpan balik (feed back).
Tujuan Komunikasi adalah a. Informatif, artinya bahwa komunikasi bertujuan menyampaikan informasi informasi yang bersifat obyektif dan nyata, b. Persuasif, artinya komunikasi bertujuan untuk menggugah hati dan perasaan sasaran atau komunikan sehingga mau mengikuti atau melakukan tindakan/ perubahan atas kemauan sendiri sesuai yang diharap komunikator, c. Entertainment, artinya bahwa komunikasi bertujuan untuk menghibur komunikan, membuat mereka senang, tidak bersikap apatis maupun pesimis.
Suatu proses komunikasi akan dapat berlangsung dengan baik apabila terdapat unsur-unsur yang merupakan satu kesatuan. Unsur-unsur komunikasi tersebut minimal ada 3 yaitu : 1). Sumber/komunikator (source/sender), 2). Pesan (message), 3). Penerima/komunikan (receiver). Karena proses penyuluhan pertanian dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metoda, teknik dan media, maka unsur komunikasi bertambah yaitu 4). Saluran (channel).
Suatu proses atau kegiatan komunikasi akan berjalan dengan baik apabila terdapat pertautan minat dan kepentingan (overlaping of interest) diantara sumber dan penerima pesan. Untuk terjadinya overlaping of interest tersebut, dituntut adanya perasamaan (dalam tingkatan yang relatif) dalam hal “kerangka referensi“ (frame of reference) dari kedua pelaku komunikasi (sumber dan penerima) . Kerangka referensi merujuk pada tingkat pendidikan, pengetahuan, latar belakang, kepentingan dan orientasi. Semakin besar tingkat persamaan dalam hal kerangka referensi semakin besar pula overlaping of interest, berarti semakin mudah proses komunikasi beriangsung.